Jika Anda datang dari google tolong klik icon google + 1 ini

PERINGATAN !!! Hak Cipta Dilindungi Oleh Google

Dilarang Mengcopy Artikel Tutorial dan SEO, DMCA sudah menghapus lebih dari 10 link pelaku copy paste dan juga akunnya. Saya harap bukan anda berikutnya karena menurut saya sayang jika hanya copy satu artikel anda harus kehilangan seluruh artikel bahkan akun anda.
Yang sudah terlanjur mengcopy segeralah edit dan cantumkan link sumber dari tutorial dan seo
terima kasih

Kamis, 26 April 2012

Keajaiban Do’a


Keajaiban Do’a
Do’a menurut bahasa artinya permohonan atau permintaan. Kata do’a dalam penggunaannya di dalam bahasa Arab, mempunyai cakupan pengertian yang luas. Tidak sebatas permintaan kepada Allah SWT semata, melainkan juga mencakup permintaan kepada selain Allah SWT. Namun, dalam bahasa Indonesia, penggunaan kata ini dikhususkan bagi hamba yang memohon kepada Tuhannya, Allah SWT. Istilah kata do’a berarti   tuntutan untuk mengerjakan dari tingkat bawah kepada tingkat atas  .
Berdo’a hukumnya wajib. Allah SWT mengkategorikan orang yang tidak mau berdo’a sebagai manusia yang takabbur. Orang itu merasa dirinya bisa memenuhi segala kebutuhannya dan mengatasi segala persoalan hidupnya. Orang seperti itu diancam tempat kembalinya kelak adalah neraka Jahannam.
Para ‘ulama  berpendapat bahwa berdo’a itu hukumnya mustahab ( termasuk anjuran, sunat ), artinya tidak berdo’a juga tidak apa- apa. Akan tetapi, ada juga diantara mereka yang berpendapat bahwa do’a  itu wajib. 

Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT Qs. Al- Mu ’ min ( 40 ) ayat 60 yang berbunyi :

“ dan Rabb kalian berfirman, berdo’alah kalian kepada Ku, niscaya aku akan mengabulkan do’a kalian. Sesungguhnya  orang- orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada Ku, mereka akan masuk  neraka Jahannam dalam keadaan hina “

Adapun alasannya, pertama, Allah SWT berfirman dengan menggunakan fi’il amr ( kata yang menunjukkan perintah ), yaitu “ berdo’alah kalian kepada Ku “. Sedangkan pada dasarnya setiap perintah itu hukumnya wajib selama tidak ada dalil yang melarangnya atau menentangnya. Kedua, Allah SWT yang Maha Kaya juga menngancam orang- orang yang tidak suka beribadah kepada Nya.
Berdo’a dan beribadah itu bisa diartikan sama. Bahkan ibadah sehari- hari yang biasa kita lakukan, yang diawali dengan Takbir dan diakhiri dengan salam disebut Shalat. Shalat yang bentuk Jama’nya Shalawat artinya do’a, sebab tidak akan disebut shalat apabila tidak berdo’a. oleh karena itu, dalam kesempatan  yang lain Rasulullah SAW menerangkan bahwa do’a itu adalah sumsumnya ibadah ( HR. At- Tirmidziy ). Siti Aisyah r.a berkata bahwasanya Rasulullah SAW pernah ditanya “ ibadah apakah yang paling utama ?”, beliau menjawab, “ Do’a seorang untuk dirinya “ ( HR. al Bukhary ). Shabat Mu’adz bin jabal r.a berkata, Rasulullah SAW pernah bersabda, “ tidak akan bermanfaat menghindar dari taqdir. Tetapi do’a itu bermanfaat untuk menentukan apa yang menimpa dan yang tidak menimpa. Oleh karena itu hendaklah kalian berdo’a “ ( HR. Ahmad ). Shabat Ibnu Abbas r.a ketika menjelaskan ayat di atas, beliau berkata, “ Ibadah yang paling utama adalah berdo’a “.

Allah SWT telah memberikan jaminan akan memenuhi setiap do’a hambanya, tentu saja dengan memperhatikan dan memenuhi segala ketentuan atau persyaratan, antara lain :

1. Tidak terburu- buru.

Dalam hadits riwayat imam Al Bukhari, nabi SAW mengingatkan bahwa Allah SWT akan memenuhi setiap do’a asal tidak terburu- buru dan putus harapan dengan  mengatakan, “ aku sudah berdo’a tapi tidak diijabah juga “.

2. Hati yakin bahwa do’anya akan diijabah.

Dalam sebuah hadits qudsiy riwayat Imam Bukhari, Allah SWT berfirman, “ aku ini tergantung sangkaan hamba “. Jika si hamba sudah menyangka Allah SWT tidak akan mengabulkan do’anya, maka tentu tentu tidak akan dipenuhi Nya.

3. Dilakukan dengan rendah hati, dengan suara lemah lembut, dengan perasaan takut tidak akan dikabul, dan dengan keinginan kuat untuk dikabul,.

Hal ini jelas diterangkan dalam Al Quran surat Al ‘Araf ( 7 ) ayat 55 – 56. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa suatu hari datang kepada Nabi SAW seorang Arab dan bertanya tentanng apakah Allah SWT itu dekat atau jauh. Jika dekat maka dia akan berdo’a dengan berteriak, namun jika dekat dia akan berdo’a dengan berbisik- bisik. Namun ternyata jawabannya langsung dari Allah SWT dengan turunnya QS Al Baqarah ( 2 ) ayat 186 yang menegaskan bahwa Allah SWT itu  dekat. Maka sesuai dengan logika sahabat tersebut, do’a dilakukan  bukan dengan suara keras- keras apalagi sampai tegang urat leher, melainkan dengan suara lembut.
Tidak semua do’a dilakukan dengan mengangkat tangan, kecuali do’a- do’a  yang memang ada dalilnya, seperti dalam do’a istisqo ( do’a minta diturunkan hujan ), do’a istinshar ( meminta pertolongan waktu perang ), do’a waktu wuquf di ‘Arafah, ketika sa’I di Shafa dan Marwa, dan ketika melontar Jumroh Ula dan Wustho setelah melontarnya.
Merendah diri dengan penuh rasa membutuhkan, disertai sikap menyadari kelemahan diri dan meyakini bahwa Allah lah yang dapat mencukupi segala kekurangan sekaligus member jalan keluar dari segala masalah yang kita hadapi. Karena tidak ada seorang pun yang dapat menghalangi, jika Dia sudah berkehendak, dan tidak ada yang dapat memberi jika Dia menghalangi.
Secara sembunyi, tidak mengeraskan suara atau dengan suara yang lembut. Berdo’a di dalam hati dan hanya difahami oleh hamba yang berdo’a dan Rabbnya, akan menghilangkan Riya. Berdo’a seperti itu jelas diperintahkan oleh Allah SWT dalam Q.S. Al-‘Araf ( 7) ayat 55.
Sahabat abu Musa Al Asy’ariy r.a menceritakan, dalam sebuah perjalanan, rasulullah SAW mendengar para sahabat berdo’a dengan suara yang keras. Ketika itu juga beliau berkata kepada mereka “ wahai manusia, kasihanilah diri kalian, karena sesungguhnya kalian tidak berdo’a kepada yang tuli dan ghaib. Sesungguhnya Dia ada beserta kalian. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan maha Dekat “ ( H.R. al Bukhariy dan Muslim ).

4. Disertai dengan usaha dan amal soleh

Hal ini didasarkan pada firman Allah SWT Q.S. al Baqarah ( 2 ) ayat 185

“ Dan apabila hamba- hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka ( jawablah ) sesungguhnya Aku ini dekat. Aku akan mengabulkan do’a seseorang  yang berdo’a apabila dia berdo’a kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk “.

Sesuai dengan contoh Nabi Muhammad SAW, untuk do’a ibadah Mahdlah ( wajib )
Khusus untuk ibadah Mahdlah, maka do’a- do’a yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW tidak boleh diubah. Seperti dalam ibadah Shalat, haji dan yang lainnya. Hal ini dikarenakan terdapat perintah dari Rasulullah SAW sendiri yaitu :
“ shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat “

5. Yakin akan dikabulkan

Do’a tidak akan dikabulkan oelh Allah SWT apabila yang berdo’anya sendiri  tidak yakin bahwa do’anya akan dikabul. Sebaliknya, do’a akan dikabulkan apabila yang berdo’anya benar- benar yakin bahwa Allah SWT akan mengabulkannya. Rasulullah SAW bersabda :

“ Berdo’alah kalian kepada AAlah SWT dalam keadaan yakin akan dikabulkan do’anya. Dan ketahuilah, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengabulakan do’a orang yang hatinya terlalai “ ( H.R. At- Tirmidziy ).

6. Disertai permohonan untuk dikabulkannya do’a

Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan adalah memohon kepada Allah SWT untuk senantiasa mengabulkan  do’a kita. Hal ini sebagaimana telah dicontohkan oleh para Nabi sebelum kita, termasuk diantaranya nabi Muhammad SAW.  Q.S. Ibrahim ( 14 ) ayat 40 memberikan gambaran “ (Ibrahim berkata ) Rabbana, kabulkanlah do’aku “

Berdo’a bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja, tapi ada saat- saat dimana do’a akan diijabah, yaitu saat- saat do’a kita besar harapannya untuk dikabulkan, antara lain :
a.  Ketika wuquf di padang ‘Arafah
b. Antara adzan dan iqamat ( H.R. An Nasaiy )
c. Pada hari Jum’at. Imam Ahmad meriwayatkan setelah shalat ‘ashar pada hari Jum’at
d. Dalam shalat Tahajjud 

Al Bukhariy meriwayatkan sabda Nabi Muhammad SAW bahwa setiap dini hari Allah SWT turun kebumi dan menghimbau, “ barang siapa yang berdo’a kepada-Ku saat ini pasti Aku kabulkan. Barang siapa yang meminta pasti Aku beri, dan barang siapa yang beristigfar pasti Aku ampuni “ subhanallah
Dalam sujud. Imam Muslim meriwayatkan anjuran Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, “ saat yang paling dekat seorang hamba dengan Allah SWT adalah ketika sedang sujud. Oleh sebab itu perbanyaklah do’a ( ketika bersujud ).”

 Setiap oranng punya kesempatan yang sama untuk berdo’a dan dikabul do’anya oleh Allah SWT. Tapi ada orang- orang yang mempunyai peluang lebih untuk dikabulkan do’anya. Mereka antara lain :
1. Orang tua untuk anaknya
2. Orang yang di Dzhalimi mendo’akan untuk orang yang telah mendzhaliminya.
3. Musafir ( orang yang sedang dalam perjalanan atau sedang bepergian )
4. Orang sedang mengerjakan Shaum
5. Pemimpin yang ‘adil.

Selain itu ada Faktor- faktor lain yang bisa jadi wasilah dikabulnya do’a. misalnya :
a. Apik dalam makan dan minum, jangankan yang jelas- jelas haram, yang syubhat pun harus dihindari.
b. Berbuat baik kepada orang tua.

Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa amal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah berbuat baik kepada orang tua ( H.R. Bukhary ).
Imam At- Thabraniy meriwayatkan Nabi SAW pernah menjelaskan kepada para sahabatnya bahwa kelak akan muncul seseorang  bernama Uwais al Qami dari Qabilah Murad dan Qaran, Yaman. Ia pernah mengidap penyakit kusta. Sewaktu bertemu dengan kalian masih tersisa bekas di dadanya sebesar dirham. Jika dia berdo’a kepada Allah SWT pasti akan dikabulkan. Jika kalian bertemu dengannya mintalah dido’akan kepadanya. Ternyata rahasia Uwais menjadi manusia dikabul do’anya itu dijelaskan nabi SAW, ia punya ibu dan ia berbuat baik kepadanya. Subhanallah
Berdo’a itu dengan bahasa kita, tetapi kalimat- kalimat yang dicontohkan Allah SAW dan Rasul-Nya lebih baik. Apabila kalimat- kalimat itu dirasakan kurang mewakili, tambahkan dengan bahasa  kita sesuai keperluan. Tetapi mohon magfiroh dan rahmat harus diutamakan. Magfirah artinya pengampunan, berarti kita mohon bebas dari siksa api neraka. Dan rahmat adalah kasih sayang berarti kita mohon surga. Amien…

                                                                                                                                                                               Percikan Do’a”
                                                                                                                                                                                              Rahmat Najieb

Baca Juga Artikel Lainnya :

5 komentar:

  1. Terimakasih artikelnya...nice share.

    BalasHapus
  2. Langkah pertama, hindari perut dari kemasukan barang-barang haram. Jangan sampai sesuap pun makanan haram yang kita telan. Jangan setegukpun minuman haram yang kita minum. Selektiflah dalam memilih makanan, yang meragukan sebaiknya ditinggalkan. Pilih saja makanan atau minuman yang benar-benar halal dan baik. Allah berfirman, "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (QS. al-Baqarah : 168)

    Memakan makanan yang halal dan baik merupakan salah satu bentuk dari ketaatan kita kepada Allah dalam memenuhi segala perintah-Nya. Bila kita selalu taat kepada Allah dan dalam mengarungi kehidupan ini senantiasa berada dalam kebenaran, tentulah segala apa yang kita mohon, kita panjatkan, dan kita minta pastilah Allah akan mengabulkannya.

    "Aku mengabulkan mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepadaku maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan hendaklah mereka berikan kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. al-Baqarah :186)

    Langkah kedua, Karena doa ini pekerjaan yang agung dan sangat utama, sebagai inti ibadah, maka dalam pelaksanaannya harus khusyu'dan serius tidak dengan main-main. Usahakan dalam berdoa ini dengan penuh keyakinan, penuh harap dan rasa takut. Merendahkan diri dengan suara yang lirih, tenang, tidak tergesa-gesa, dengan keimanan, dan tahu akan hakikat yang diminta. Allah telah menyatakan,

    "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan suara yang lembut .." (QS. al-A'raf : 55)

    Langkah ketiga, mengetahui waktu-waktu doa dikabulkan. Walaupun berdoa ini bisa dilakukan sembarang waktu, namun ada waktu-waktu yang memang disunnahkan. Insya Allah pada waktu-waktu ini segala doa akan diperkenankan dan dikabulkan.

    BalasHapus

- Stop Copy-Paste , Jika suka dengan Artikel ini silahkan edit dulu dan sertakan sumbernya . Jadilah Blogger yang berterima kasih !!! Kita sesama Blogger harus saling menguntungkan satu sama lainnya .
- Yang membuat link hidup maaf jika kami hapus jd stop spam
Salam Blogger